Pelestari Kain Tenun Lepo Lorun

Diposting Pada 28 August 2020

Disusun oleh Tim Muri

Alfonsa Raga Horeng, perempuan dari Desa Nita, Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT) mendirikan semacam sanggar yang diberi nama Lepo Lorun yang artinya “rumah tenun”.

Tak kenal lelah telah berkelana, Alfonsa Horeng telah berkeliling ke 32 negara mengenalkan tenun ikat sebagai mahakarya dan nilai-nilai hidup masyarakat Maumere karena tenun bukanlah produk yang bisa dibuat secara massal. Perjuangannya tersebut memperoleh berbagai penghargaan di beberapa negara.

Ia tak ubahnya bank data budaya dan tradisi Flores dan sangat fasih menjelaskan ritual kehidupan manusia dari lahir sampai meninggal, serta memahami makna motif-motif kain tenun ikat yang jumlahnya ratusan.

Lokakarya di Lepo Lorun tidak hanya diikuti oleh anak-anak muda setempat, tetapi juga para turis lokal dan asing dari berbagai negara.

Menenun adalah aktivitas lumrah bagi perempuan Flores yang sejak kecil sudah dikenalkan dengan aktivitas menenun, mulai dari memintal kapan menjadi benang, lalu mewarnai benang dan akhirnya menenun dengan motif-motif tertentu. Tenun ikat digunakan masyarakat Flores dalam segala kesempatan mulai dari keseharian, acara adat sampai acara keagamaan. Melalui Lepo Lorun, Alfonsa berharap tenun ikat bisa lestari.

Share :